Liburan


"Berhibur tiada salahnya, karna hiburan itu indah..tapi pabila salah memilihnya membuat kita jadi bersalah"... Begitulah lirik nasyid lagu Raihan yang berjudul Berhibur, menyertaiku pagi ini melalui mp3 player di komputer kerjaku. Yah, hari ini cukup fresh, karna sabtu kemarin habis liburan ke Tangkuban Perahu aman teman-teman kantor....

Hari itu, 15 Apr 2006, aku bersama temen-temen berangkat ke Tangkuban Perahu. Inilah baru pertama kali aku ke sana. Bosan juga liburan di Jakarta, perlu suasana baru, liburan yang dekat dengan alam.

Melewati jalan yang berliku dan pemandangan kebun teh yang menghampar, menjadikan ku ingin lebih lama duduk di sana. Menghirup udara dalam-dalam dan hmm...damai sekali....

Begitu memasuki area Taman Wisata Tangkuban Perahu, bau belerangpun menyambut..dan ternyata pengunjungnya pun banyak sekali, entah mereka datang dari mana, yang jelas hari itu ramai sekali.

Bau belerang itu malah membuat langkah kaki semakin bergegas ingin menikmati karunia Allah berupa alam yang indah dengan gunung yang tegak, kawah yang lebar dan panorama di sana yang indah. Ratusan bahkan ribuan orangpun di sana tak bosan berfoto mengabadikannya.

Allahu Akbar .... Ya Allah, begitu sempurnanya Kau ciptakan alam ini ... dan kami - manusia - hanyalah bagai titik dan mungkin lebih kecil lagi, yang berbaris di permukaan gunung itu. Sementara Engkau adalah Maha Kuasa, Maha Pencipta, tak adalah yang dapat kami sombongkan di dunia ini, karena semua itu adalah milik-Mu.



"Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. Ar-Ra'd : 3)


Nikmati Saja

Seorang teman berkata "Enak ya jadi penjual gorengan. Coba bayangin dia kerja ga ada yang nyuruh, mau mulai jam berapa pun jualnya terserah dia, jam 12.00 sudah selesai, tinggal pulang bawa grobaknya. Pendapatannya nih, dia bisa jual 500 potong gorengan per hari, kalo harga gorengan Rp. 500 per potong, coba hitung, ia bisa dapet Rp. 150,000 per hari. Dengan asumsi keuntungan 50%, keuntungan dia perhari Rp. 75.000 dan sebulan Rp. 2,5 juta...sementara kita mati-matian untuk dapatin segitu..."

Ya, terkadang akupun pernah terlintas kaya gitu. Membandingkan dua kondisi yang berbeda meski memang sebenarnya ga pantas untuk dibandingkan. Ga ketemu....

Mengapa? Karena di sudut yang lain, seorang penjual gorengan menatap wajah para karyawan yang membeli gorengannya, sambil berkata :
"Enak ya mas jadi orang kantoran. Kerja di kantor ga kepanasan pake AC lagi, pake baju bersih rapi, kerjanya di depan komputer dan gajinya pasti lumayanlah..Saya pengin anak saya seperti sampeyan, jangan seperti saya, jadi tukang gorengan. Bayangin mas, habis jualan jam 12 siang saya belanja bahan dagangan, harus bangun jam dua malam untuk buat adonan dan jam enam sudah harus mangkal di sini. Kalo saya males, keluarga saya ga makan, kalo mas sih tinggal bolos aja...Kalo dagangannya ga pas rasanya atau ga cepet layaninnya, yang beli mada protes, apalagi kalo musim hujan mas, yah tekor dagangan ga habis, trus kalo musim trantib, kejar-kejaran ama trantib. Untung bisa lari, kalo gerobak diangkut..wah..habis mas...". Penjual itu masih bertutur penuh keluh kesah.

Mendengarnya aku hanya bisa tersenyum dalam hati dan malu. Apa jadinya kalo aku yang jualan itu??

Ya, aku harus bersyukur dengan apa yang telah aku dapat, enak ga enak, suka ga suka, puas ga puas, itulah yang harus dinikmati karena itulah milikku. Yang penting bagaimana membuat yang ga enak menjadi enak, ga suka menjadi suka dan ga puas jadi puas. Seorang teman mengatakan, cukup dengan membiasakannya, mencintainya dan mensyukurinya.

Yeach...eit kerjaan masih banyak nih, so, I must enjoy it coz I love it...

"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah)"
(QS. Ibrahim : 34)


Harus Optimis

Di suatu sore, di sebuah warung di pinggir jalan depan Mal Kalibata, sambil menunggu sate ayam pesananku masak, tanpa sengaja aku mendengarkan percakapan menarik dua orang pemuda (A dan B) seumuranku, yang juga sama-sama menunggu sate ayam pesanannya masak.

"Katanya kamu kena PHK ?" tanya pemuda A
"Ya, benar. Oleh karena itu aku ajak kau makan disini. Ini makanan kesukaan kita. Ya, mungkin setelah ini kita akan sulit sekali bisa makan di sini." jawab pemuda B.
"Kasihan kamu. Kamu kan habis menikah dan istrimu ga kerja" terus pemuda A.
"Jangan kasihani aku seperti itu. Alhamdulillah aku dapat pesangon dua bulan gaji. Aku akan bawa istriku pulang ke kampung. Aku akan buka usaha kecil-kecilan di sana. Mungkin berat bagi istriku, tapi aku akan mengajarinya menikmati hidup. Insya Allah ia pasti bisa." kata pemuda B dengan yakin.
"Kamu optimis sekali" kata pemuda A.
"Itu harus. Karena cuma itu modalku saat ini" tegas pemuda B.

Optimis...sebuah kata yang penuh energi. Kata-kata pemuda B itu terus saja terngiang di benakku.

Dia benar itulah modal yang cukup penting untuk survive. Dalam kondisi apapun selalu berfikir positif. Tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk berhenti, namun mendayagunakan apa yang tersisa untuk berjalan. Life must go on.

Benar..seperti kata para motivator dalam seminarnya tentang gelas yang airnya setengah. Tergantung bagaimana kita menyikapinya, apakah itu setengah isi atau setengah kosong menurut kita. Dari situlah hidup kita akan survive atau game-over.

Bismillah

"Koran mas. "

Aku pun sedikit terkejut, baru saja ku kunci kamar kos tempat aku tinggal untuk berangkat ke tempat kerja, ada suara yang menyapa. Padahal waktu itu masih jam setengah enaman dan udarapun masih basah sisa hujan semalam. Akupun menoleh, seorang pemuda umur belasan, sambil tersenyum menunjukkan setumpuk koran yang dibawanya...

"Ada republika, media, poskota..." pemuda itu mencoba menawarkan..
"Ada berita apa?" tanyaku
"Wah banyak banyak..ada Iran yang berani melawan barat dalam hal pengayaan uranium, ada Jakarta yang siaga IV karena mau banjir, penolakan umat Islam terhadap Playboy, wah banyak deh mas.." dengan semangat ia menjelaskan..

Akhirnya aku membeli koran dari pemuda. Dan dari gang tempat kos aku tinggal, kami berjalan menuju jalan raya. Dalam perjalanan pemuda itu bercerita..

"Aku harus dapat jual koran sebanyak-banyaknya mas. Aku perlu uang untuk dapat ditabung. Pertengahan tahun ini aku dah lulus SMU dan aku pengin kuliah. Siapa tahu bisa merubah hidup. Ya, orang bilang sih aku nghayal, tapi aku ga peduli, aku yakin aku bisa mas." katanya sambil berlari penuh smangat mengejar bus yang lewat..

Wow, aku tertegun melihat smangat yang luar biasa dari pemuda itu. Aku seakan bisa merasakannya dari cara dia bicara dan langkah dia berlari...

Aku masih dipinggir jalan, menungguh Kopaja 57 lewat...sambil merenung dan tersenyum sendiri..dan smangat pemuda itu ternyata menyulut smangatku juga. Hingga Kopaja itu datang dan aku berada di dalamnya pun, smangat itu ada di sana .

Ya aku harus punya smangat yang sama seperti pemuda itu. Masa depan yang lebih baik, aku harus berusaha menggapainya. Aku tidak boleh kalah oleh tugas yang menumpuk, jalan yang macet, kesulitan yang datang apalagi ama kemalasan yang menggoda.

Sambil membaca halaman demi halaman dari koran yang kubeli, terlintas di benakku, hari ini adalah hari penuh smangat. Di sekitarku, ada seorang penjual koran yang mengajariku bagaimana mengawali hari dengan smangat dan ada aku yang terbakar smangat melihatnya. Di luar sana, ada sebuah negara yang dengan smangat dan percaya diri, mengayakan uranium untuk mendapatkan sumber energi alternatif bagi rakyatnya meski harus berhadapan dengan kesewenangan negara adikuasa, sementara di sini, ada mayoritas umat islam dengan smangat memperjuangkan kebenaran dengan menentang kehadiran majalah perusak moral. Semoga saja pagi ini mengawali kesuksesan di hari ini .. and..moga-moga ga jadi banjir (..kata koran sudah siaga IV..).

Sementara itu pula, seperti tahu smangat ini, di ear-phone ku yang tersambung dengan mp3 player, senandung nasyid dari Raihan pun meluncur diiringi dengan alat musik pukul yang menghentak.

"Mulaikanlah kerja dengan niat yang satu untuk mendapat keridloannya, biar sgala urusan dipermudahkannya, agar snantiasa dalam kebaikan, barulah hati kita kan terasa tenang dan bersyukur dengan apa yang ada...
Dimulaikan dengan Bismillah, disudahi dengan Alhamdulillah, begitulah sehari dalam hidup kita, mudah-mudahan diberkahi Allah "


Ya, Allah kuatkanlah imanku, ridloilah setiap langkahku dan mudahkanlah jalanku dalam menggapai rahmatmu.


"Rodliytu billahi robbaa, wabil islaam midiynaa, wabimuhammadin sholallahu 'alayhi wasalama rosuulan"


Assalamualaikum Wr. Wb.

Jika kita berada di pagi hari, janganlah menunggu sore tiba. Hari inilah yang akan kita jalani, bukan hari kemarin yang telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukannya, dan juga bukan esok hari yang belum tentu datang. Hari yang saat ini mataharinya menyinari kita dan siangnya menyapa kita inilah hari kita.
Umur kita mungkin tinggal hari ini. Maka anggaplah masa hidup kita hanya hari ini atau seakan-akan kita dilahirkan hari ini dan akan mati hari ini juga. Dengan begitu kita tak akan tercabik-cabik di antara gumpalan keresahan, kesedihan dan duka masa lalu dengan bayangan masa depan yang penuh ketidakpastian dan acapkali menakutkan.

"Maka berpegangteguhlah dengan apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang yang bersyukur" [QS. Al-Araf : 144]

Hiduplah hari ini tanpa kesedihan, kegalauan, kemarahan, kedengkian dan kebencian.

[disarikan dari La Tahzan, Dr. 'Aidh al-Qarni]